Secara embrional, konsep manusia sebagai pembelajar muncul ketika
secara khusus mereka mencari jawaban terhadap pertanyaan “Siapakah Pemimpin
itu?” Dalam proses mencari jawaban terhadap pertanyaan itu maka mereka akan
menemukan bahwa studi-studi pakar kepemimpinan dalam dua-dekade terakhir telah
sampai pada kesimpulan sementara bahwa semmua orang adalah pemimpin.Akan tetapi
yang dimaksud adalah tenyata menunjuk pada “Potensi” (Human Being) dan belum
“aktualisasi” (Being Human).Karena itu potensi kepemimpinan dalam diri manusia
itu harus diaktualisasikan keluar,direalisasikan,dinyatakan, dijadikan faktual.
Lalu, muncul pertanyaan “Proses Aktualisasi” itu namanya apa?
Jawabnya sederhana: belajar tentang (mengetahui diri), belajar menjadi
(merenungkan diri), dan belajar (Praktik). Kalau begitu bukankah tugas pertama
manusia adalah menjadi pembelajar (becoming a learner, learning individual)?
Dan, bukankah dengan proses pembelajaran itu ia dapat mengaktualisasikan
dirinya, sehingga menjadi apa yang disebut “Pemimpin” (becoming a leader, yang
menciptakan learning organization)? Dengan demikian, bukankah menjadi pemimpin
dapat dikatakan sebagai panggilan tugas kemanusiaan?
Lalu, ketika seseorang disebut-sebut sebagai “Pemimpin besar” (A
Great Leader), tidakkah itu dapat dinamakan sebagai guru (Becoming a teacher,
yang menciptakan Learning Society)? Bukankah para pendiri agama-agama besar di
dunia ini tidak saja disebut atau menyebut diri mereka sebagai “Pemimpin”,
tetapi juga “Guru”?
Begitulah proses pencarian jawaban dari pertanyaan “Siapakah
Pemimpin itu?”, setidaknya untuk sementara waktu, bermuara pada tri tugas,
tanggung jawab dan panggilan universal untuk semua orang (manusia), yakni:
pertama, menjadi seorang pembelajar (Becoming a Learner); kedua, menjadi
seorang pemimpin (Becoming a Leader); dan ketiga, menjadi seorang guru
(Becoming a Teacher).
Sumber: Buku berjudul "Menjadi Manusia Pembelajar" karya Andrias Harefa
0 komentar:
Posting Komentar