Manusia dan
hakekatnya
Manusia
sebagai makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna memiliki banyak keunggulan
dibanding makhluk-makhluk yang lain. Manusia diberikan hati nurani, sehingga
manusia mampu merasakan apa yang dinamakan Cinta
dan Kasih sayang. Dengan adanya rasa cinta manusia dapat melakukan segala
hal dengan penuh perasaan dan tanggung jawab, sebagai contoh: seorang anak dapat mendapat kehangatan dan
kenyamanan hidup dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang orang tuanya dalam
mengasuhnya.
Melalui
Cinta dan kasih sayang pula seseorang mendapatkan energi dan motivasi yang
tidak pernah diduga sebelumnya. Sebagai contoh: Seorang Lionel Messi berhasil
menjadi seorang pemain sepakbola terbaik di dunia karena ia mencintai
pekerjaannya sebagai pemain sepakbola sehingga ia mendapatkan energi lebih
dalam setiap permainan sepakbolanya.
Cinta
dan kasih sayang dapat mengajarkan manusia untuk saling berbagi baik suka
maupun duka.Oleh karenanya hakikat manusia sebagai mahkluk sosial dapat
diterapkan dalam penerapan cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia
lainnya, juga hakikat manusia yang
tercipta dengan diberkahi oleh akal pikiran serta hati nurani sehingga manusia
dapat berpikir dan merasakan segala sesuatu yang berkaitan dengan hakikat
penciptannya.
Kepribadian Bangsa
Timur
Bangsa
timur identik dengan benua asia dengan ciri-ciri penduduknya berkulit sawo
matang, bermata sipit dan berambut hitam. Berbicara tentang Bangsa timur maka
kita tidak dapat memisahkan kepribadian tentang bangsa yang beradab, ramah dan
menjunjung tinggi kesopansantunan. Indonesia merupakan salah satu negara yang
termasuk ke dalam negara-negara yang berdomisili sebagai bangsa timur. Bangsa
Indonesia yang dikenal ramah, santun dan menghargai warisan budaya yang
ditinggalkan oleh nenek moyangnya dapat dijadikan sebagai sebuah contoh negara
yang mampu menerapkan nilai-nilai kepribadian bangsa timur. Gaya hidup bangsa
Indonesia pun terkesan santun baik dari cara berpakaian, tata krama maupun cara
bicara sehingga para turis-turis mancanegara menjuluki bangsa Indonesia sebagai
bangsa yang “Ramah”.
Unsur-unsur, Wujud
dan Orientasi
Unsur kebudayaan meliputi
semua kebudayaan di dunia, baik yang kecil, bersahaja, dan dan terisolasi,
maupun yang besar, kompleks, dan dengan jaringan hubungan yang luas. Menurut konsep
B. Malinowski, kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsur universal, yaitu :
1. Bahasa
2. Sistem
Teknologi
3. Sistem
mata pencaharian
4.
Organisasi sosial
5. Sistem
Pengetahuan
6. Religi
7. Kesenian
a.Wujud gagasan / (ideal)
Budaya dalam
wujud gagasan/ide ini bersifat abstrak dan tempatnya ada dalam alam pikiran
tiap warga pendukung budaya yang bersangkutan sehingga tidak dapat diraba atau
difoto. Sistem gagasan yang telah dipelajari oleh setiap warga pendukung budaya
sejak dini sangat menentukan sifat dan cara berpikir serta tingkah laku warga
pendukung budaya tersebut. Gagasan-gagasan inilah yang akhirnya menghasilkan
berbagai hasil karya manusia berdasarkan sistem nilai, cara berfikir dan pola
tingkah laku. Wujud budaya dalam bentuk sistem gagasan ini biasa juga disebut
sistem nilai budaya.
b.Wujud perilaku (aktivitas)
Budaya dalam
wujud perilaku berpola menurut ide/gagasan yang ada. Wujud perilaku ini
bersifat konkrit dapat dilihat dan didokumentasikan (difoto dan difilm).
Contoh: Petani sedang bekerja di sawah, orang sedang menari dengan lemah
gemulai, orang sedang berbicara dan lain-lain. Masing-masing aktivitas tersebut
berada dalam satu sistem tindakan dan tingkah laku.
c.Wujud benda hasil budaya (artefak)
Semua benda
hasil karya manusia tersebut bersifat konkrit, dapat diraba dan difoto.
Kebudayaan dalam wujud konkrit ini disebut kebudayaan fisik. Contoh:
bangunan-bangunan megah seperti piramida, tembok cina, menhir, alat rumah
tangga seperti kapak perunggu, gerabah dan lain-lain.
Orientasi
Nilai Budaya
Terdapat
banyak nilai kehidupan yang ditanamkan oleh setiap budaya yang ada di dunia.
Nilai kebudayaan pasti berbeda-beda pada dasarnya tetapi kesekian banyak
kebudayaan di dunia ini memiliki orientasi-orientasi yang hampir sejalan
terhadap yang lainnya. Jika dilihat dari lima masalah dasar dalam hidup
manusia, orientasi-orientasi nilai budaya hampir serupa.
Lima Masalah Dasar Dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya
Manusia ( kerangka Kluckhohn ) :
- Hakekat Hidup
- Hidup itu buruk
- Hidup itu baik
- Hidup bisa buruk dan baik, tetapi manusia tetap harus bisa berikthtiar agar hidup bisa menjadi baik.
- Hidup adalah pasrah kepada nasib yang telah ditentukan.
- Hakekat Kerja atau Karya Manusia
- Karya itu untuk menafkahi hidup
- Karya itu untuk kehormatan.
- Persepsi Manusia Tentang Waktu
- Berorientasi hanya kepada masa kini. Apa yang dilakukannya hanya untuk hari ini dan esok. Tetapi orientasi ini bagus karena seseorang yang berorientasi kepada masa kini pasti akan bekerja semaksimal mungkin untuk hari-harinya.
- Orientasi masa lalu. Masa lalu memang bagus untuk diorientasikan untuk menjadi sebuah evolusi diri mengenai apa yang sepatutnya dilakukan dan yang tidak dilakukan.
- Orientasi masa depan. Manusia yang futuristik pasti lebih maju dibandingkan dengan lainnya, pikirannya terbentang jauh kedepan dan mempunyai pemikiran nyang lebih matang mengenai langkah-langkah yang harus di lakukann nya.
- Pandangan Terhadap Alam
- Manusia tunduk kepada alam yang dashyat.
- Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam.
- Manusia berusaha menguasai alam.
- Hubungan Manusia Dengan Manusia
- Orientasi kolateral (horizontal), rasa ketergantungan kepada sesamanya, barjiwa gotong royong.
- Orientasi vertikal, rasa ketergantungan kepada tokoh-tokoh yang mempunyai otoriter untuk memerintah dan memimpin.
- Individualisme, menilai tinggi uaha atas kekuatan sendiri.
Perubahan
Kebudayaan dan Kaitan Manusia dengan Kebudayaan
Dari
sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara
dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai diaektis,
maksudnya saling terikat satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui
3 tahap yaitu:
a. Eksternalisasi, proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
b. Obyektivasi, proses dimana masyarakat menjadi realisasi obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
c. Internalisasi, proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.
Sumber
Referensi :